Al-QURAN & PERADABAN ISLAM* 1

Umay M. Dja’far Shiddieq

Pengertian
Al-Quran, sebagaimana telah dimaklumi, adalah firman Allah yang diturunkan kepada  Muhammad saw.,  melalui Malaikat Jibril, diterima secara lafzhan wa ma’nan dengan mutawatir, ditulis dalam mushhaf, dan berpahala bagi yang membacanya.

Peradaban, berakar kata adab (Arab) yang berarti indah, baik, sebagai hasil olah fikir dan budi daya, karsa dan karya manusia dalam memperoleh peningkatan kebiakan dalam hidupnya,  yang bersifat lintas budaya (Prof. Dr. Soedijarto, MA ).

Dari dua pengertian di atas dapat dipahami bahwa Al-Quran itu wahyu sebagai produk Allah yang pasti dan dijamin benarnya, bersifat lestari, seedangkan peradaban, adalah murni hasil budi daya olah pikir manusia, yang tentu saja, dinamis, berubah-ubah, saling terpengaruh, bersifat temporari, dan bersifat nisbi.

Sikap al-Quran terhadap Budaya Setempat
Ketika al-Quran turun, di masyarakat jazirah Arab, masyarakatnya sudah memiliki budaya serta paradaban tertentu yang dianut serta dijalani oleh mereka, bahkan tentang konsep teologi ketuhananya serta tatacara beribadah kepada tuhan mereka, mereka rumuskan sendiri dan terus berlangsung secara turun temurun melewati berbagai genarasi, demikian halnya ketika al-Quran sudah di bumi, lalu disebarkan oleh para Mujahid Da’wah ke seluruh pelosok Negeri, selalu berhadapan dengan adat dan tradisi lokal di mana Al-Qur-an itu datang.

Ada sikap dasar yang diajarkan Allah kepada Muhammad saw. dalam al-Quran tentang hal di atas, yakni firman-Nya QS. 7: 199:

خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجهلين
Beri maaaf (mereka), suruhlah (meneruskan) ‘uruf (adat istiadat yang baik), dan berpalinglah engkau dari Kelakuan jahiliyah (orang-orang bodoh)

Dalam realisasi perintah ayat ini, ayat-ayat al- Quran yang lain menunujukkan bebera pa sikap, seperti:

  • Menolak Keseluruhannya,  Produk budaya lokal yang secara diametral bertentangan dengan pokok-pokok aqidah Islam , maka Al-Quran menghancurkannya secara sekaligus dan tanpa kompromi, seperti  yang dilakukan oleh para sahabat Nabi ketika menghancurkan berhala-berhala disekitar Ka’bah.
  • Diluruskan secara Berangsur, Produk Budaya lokal  yang berkaitan dengan penyakit sosial akut, diluruskan semuanya, namun dengan berangsur (tadarruj), seperti, larangan terhadap maysir( judi ) dan khamar ( minuman keras ) sebanyak 3 kali, Larangan al- Quran terhadap Riba ( 4 kali )
  • Dikoreksi yang bertentangan syari’at, dan ditetapkan yang sesuai, Seperti konsep saling mewarisi dengan teman, adopsi, ‘aurat laki-laki, Zhihar, Qasam,

*Kuliah Zhuhur Ramadhan Masjid Agung Sunda Kelapa, Sabtu 30 Okt 2004

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: