INDERA PENDENGARAN DALAM INFORMASI AL-QURAN DAN AL-SUNNAH

Umay M. Dja’far Shiddieq

Diberikan Allah sejak Penyempurnaan Kejadian

Firman Allah

اَلَّذِيْ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْئٍ خَلَقهُ وَبَدَأَ خَلْقَ اْلاسنِ مِنْ طِيْنٍ . ثُمَّ جَعَلَ  نَسْلَهُ مِنْ سَللةٍ
مِنْ مآءٍ مَهِيْنٍ  . ثُمَّ سَوّاَهُ وَنَفَخَ فِيْهِ  مِنْ رُوْحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ الّسَمْعَ وَاْلاَبْصرَ وَاْلاَفْئِدَةَ
قَلِيْلاً ماَ تَشْكُرُوْنَ        السجدة 7-9
(Dialah Allah) yang menjadikan segala ciptaan-Nya indah, dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian menjadikan keturunannya dari air yang hina (air maniy), kemudian Dia sempurnakan kejadian (fisiknya) dan Dia  tiupkan Ruh-Nya, dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (akal fikiran ), nemun sedikit sekali kamu yang bersyukur. (QS. 32 (Al-Sajadah): 7-9).

Dari informasi ayat di atas dapat difahami bahwa:

  1. Allah menciptakan segala makhluk-Nya dengan sebaik-baiknya
  2. Penciptaan manusia pertama (Adam) dengan bahan baku pertama langsung dari tanah
  3. Manusia keturunan (Bani Adam) diciptakan dengan bahan baku pertama adalah air yang hina  yaitu sperma yang bercampur dengan ovum (sel telur) dalam  bahasa al-Qur-an disebut “Nuthfatin Amsyaaj” QS. 76: 2.
  4. Allah menyempurnakan kejadian manusia (melengkapi seluruh organ tubuhnya), dan meniupkan Ruh-Nya kepada jasad manusia itu
  5. Allah memberi manusia indera: pendengaran, penglihatan, dan akal fikiran.

Di dalam kaidah ilmu tafsir, jika Allah dalam al-Quran menyebut beberapa hal dengan urut, maka seperti urutan itu pula kejadian dan fakta yang sesenggunhya terjadi. Dalam ayat di atas, Allah memberi indera manusia pendengaran, penglihatan, dan akal fikiran, maka dapat dipastikan bahwa berfungsinya pendengaran lebih dahulu dari pada penglihatan, apalagi dengan akal fikiran.

Sebutan hidup dan mati dalam al-Qur-an ada dua bentuk urutan, di dalam QS. 6: 162, kata hidup lebih dahulu disebut dari pada mati, karena yang dimaksud hidup dalam ayat itu adalah kehidupan dunia ini, dan yang dimaksud mati adalah sesudahnya, sementara dalam QS. 67: 2, kata mati disebut lebih dahulu dari pada kata hidup, karena yang dimaksud  mati adalah ketika manusia belum lahir ke dunia, yakni alam arwah, dan yang dimaksud dengan hidup, adalah kehidupan dunia ini, karena memang manusia menjalani dua kali mati dan dua kali hidup QS. 2: 28, dan QS. 40: 10-11.

Sepanjang penelusuran kita, ketika Allah menjelaskan penciptaan manusia dan memberinya indera, selalu menyebut lebih dahulu menyebut “al-Sam’a” (pendengaran) dari  “al-abshara” (penglihatan, dapat diperhatikan ayat-ayat berikut: QS.10: 31; QS. 16: 78; QS. 23: 78, dan QS. 67: 23; dan apabila sebutan al-sam’a di belakang sebutan “al-abshar”, maka dapat disimpulkan dalam rangka mengecam atau mencela, seperti firman Allah di bawah ini:

وَلَقَدْ ذَرَأْناَ لِجَهَنَّمَ كَثِيْراً مِنَ الْجِنِّ وَاْلاِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ آذَانٌ لاَيَسْمَعُوْنَ بِهاَ اُولآئِكَ كاَلاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ  اُولآئِكَ هُمُ الْغَافِلُوْنَ . الاعراف 179

Dan pasti akan Kami campakkan ke dalam neraka jahannam itu, kebanyakan dari golongan Jin dan manusia, mereka punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, dan mereka punya telinga, tetapi juga tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mereka itu laksana binanatng, bahkan lebih sesat lagi, dan mereka itulah makhluk-makhluk  yang lalai (QS. 7 (al-A’raf ): 179).

Demikian halnya, ketika kelak di akhirat yang lebih dahulu ditanya adalah pendengaran, baru penglihatan, kemudian akal fikiran, seperti diinformasikan QS. 17: 37. karena urutannya seperti itu, namun demikian yang perlu diperhatikan secara akhlak Islam terhadap Allah,  hamba-Nya tidak diperkenankan meyakini bahwa indera yang satu lebih penting dari yang lainnya, semuanya penting dan mempunyai peran masing-masing, yang saling mendukung sebagai suatu sistem yang utuh dan tak terpisahkan.

Informasi al-Hadits

Analisis pendengaran lebih dahulu berfungsi dari pada penglihatan yang difahami dari informasi al-Quran, agaknya diperkuat oleh al-Hadits, yang mengajarkan bayi lahir diadzankan dari telinga kanannya dan diiqamatkan di telinga kirinya, jika bayinya laki-laki,dan diiqamatkan di telingan kanan-kiirnya jika bayinya perempuan.

Diriwayatkan dari Abi Rafi’  Maula Rasulillah saw. ra.,

قاَلَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَذَّنَ فيِ اُذُنِ الْحُسَيْنِ بن عَلى حِيْنَ وَلَدَتْهُ فاَطِمَةُ بِا الصَّلاَةِ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ  . رواه ابو داود والترمذي وغيرهما
bahwa dia melihat Rasulullah SAW mengadzankan dengan adzan shalat di telinganya Husein bin Ali, ketika telah dilahirkan oleh Fathimah. Riwayat Abu Dawud, al-Turmudzy, dan rawi lainnya.
Menurut Jamaah : Dianjurkan diadzankan ditelingan kanannya dan diiqamahkan ditelinga kirinya, dan telah diriwayatkan dalam Ktab Ibnu Sinniy dari Husein bin ‘Ali, bahwa nabi SAW bersabda :
مَنْ وَلَدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ  فَأَذَّنَ فِيْ اُذُنِهِ الْيُمْنىَ وَاَقاَمَ فِيْ اُذُنِهِ الّيُسْرىَ  لَمْ تَضُرْهُ اُمُّ الصِّبْيَانِ
Barang siapa yang anaknya lahir dan diazdankan di telingan kanannya dan diiqamahkan di telingan kirinya, maka tidak akan dapat diganggu oleh Ummushshibyaan (Saithan yang diberi tugas menggoda anak yang baru lahir).

Indera terakhir saat kematian
Jika ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan pendengaran adalah indera pertama yang lebih dahulu berfungsi, maka ternyata indera pendengaran juga yang paling akhir  berfungsi, sehingga ketika skarat maut, manusia dianjurkan untuk ditalqinkan, yang artinya  diajari, diingatkan, serta dituntun mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah :
Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya:

لَقِّنُواْ مَوْتىكُمْ بِقَوْلِ ” لآَِالهَ اِلاَّ  اللهُ
Tuntunlah oleh kamu orang yang hampir mati itu dengan bacaan “Laa ilaaha Illallaah” (tiada Tuhan selain Allah)

Hadits ini sering disalah-praktekan oleh kebanyakan muslimin Indonesia, bahwa orang yang sudah dikubur baru ditalqinkan, padahal arti talqin itu sendiri adalah menuntun, berarti untuk orang yang masih dapat mengikuti, artiny sebelum mati, maka harus dituntun mengucapkan Laa ilaaha Illallaah.

Namun ada yang lebih essensi dari itu semua bahwa, perintah Rasul ini secara tidak lengsung menunjukkan bahwa orang yang sudah hampir mati pun pendengarannya masih berfungsi, maka disuruh menuntunnya. Dengan demikian maka dapat disimpulkan indera pendengaran adalah indera manusia yang pertama kali berfungsi dan juga sekaligus yang terakhir.

Wa Allahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: